Ancaman di Balik Kampanye Waria

12 June 2009

Zionis, Nasrani, Orientalis dan Munafikin bersatu padu menghancurkan Islam. Mereka bekerja keras mengaburkan ajaran Islam. Salah satunya dengan kampanye waria. Waria itu devian dan mengundang azab Allah. Pemahaman inilah yang coba dipatahkan oleh kaum waria. Tak heran bila berbagai cara mereka lakukan. Kampanye waria ini tak lain ghazwul fikri yang bertujuan melemahkan sendi-sendi Islam.

Di Yogyakarta, kelompok waria melakukan aksi menuntut kesetaraan orientasi seksual dan identitas gender. Aksi yang dilakukan Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan dan Diskriminasi ini, menolak segala tindak kekerasan dan bentuk diskriminasi maupun stigma yang berbasis orientasi seksual dan identitas gender pada Rabu (13/8).

Belasan orang yang menutup wajahnya dengan kain hitam itu berunjuk rasa di depan Gedung Agung (Istana Negara) Yogyakarta. Di leher mereka tergantung poster yang bertuliskan `homo seksual bukan kriminal`, `homo seksual bukan penyakit jiwa`, dan `homoseksual = HAM`. Mereka menuntut perlakuan sama dengan lainnya, seperti penerimaan bekerja di sektor formal.

Awalnya, massa pengunjuk rasa yang dikoordinir Matius Indarto itu menyampaikan rasa duka cita bagi para korban pembunuhan yang dilakukan Verry Idham Henyansyah alias Ryan. Kemudian, kelompok massa yang terdiri dari Rumpun Cut Nyak Din, Serikat Mahasiswa Indonesia serta kelompok waria ini mendesak proses hukum menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak merendahkan orientasi seksual dan identitas gender seseorang.

Upaya kaum waria agar bisa diterima di tengah masyarakat juga tidak sebatas aksi wacana dan massa. Menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-63, digelar aksi tanding voli antara kaum ibu dan waria di Samarinda. Untuk menarik perhatian, pawai bencong dan lomba-lomba dengan mengenakan pakaian wanita juga digelar. Padahal Islam melarang pria bergaya seperti perempuan. Lebih dari itu, akan mengundang laknat Allah ta’ala.

Bahkan di Polewali, Sulawesi Selatan digelar ajang putri-putrian versi waria Agustus ini. Menurut Sekjen Yayasan Putri Waria Indonesia, Shuniyya Ruhama Habiballah, acara Top Model Waria di Polewali ini merupakan turunan kegiatan dari Yayasan Putri Waria Indonesia. “Karena biasanya, apa pun kegiatannya kita serahkan pada daerah masing-masing. Peserta Putri Waria di daerah biasanya dikirimkan ke Kontes Putri Waria Indonesia tingkat nasional yang diadakan oleh Yayasan kami,” ujar Shuniyya kepada Sabili.

Shuniyya juga memaparkan, para waria di Indonesia Timur terbilang paling aktif. “Ini mengingat di kebudayaan Bugis kuno mereka sudah mengenal kaum bissu – penjaga arajang atau benda pusaka kerajaan Bone – yang mereka itu memang waria suci,” jelasnya.

Shuniyya juga mengakui, even putri-putrian yang kerap dilakukan kaum waria adalah salah satu bagian pencitraan agar kaum waria bisa diterima secara luas oleh masyarakat. “Ini semua karena ketidaktahuan masyarakat. Terkadang masyarakat sudah lebih dulu mempunyai image tidak bagus terhadap kita,” terangnya.

Laki-laki yang memutuskan total menjadi waria ketika memasuki bangku kuliah ini mendefinisikan waria sebagai sebuah fenomena seseorang yang jiwa dan raganya berbeda. Menurutnya, fenomena waria tidak hanya dipengaruhi faktor kejiwaan; tapi sampai terbawa ke hormonal, anatomi tubuh dan faktor genetika. “Jadi untuk waria, kita tidak bisa langsung mengatakan Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya tanpa melihat latar belakang dan kejadian mengapa ia harus hidup sebagai waria,” ujarnya berargumen.

Shuniyya bersikukuh, kaum waria bukanlah laki-laki yang menyerupai perempuan. Menurutnya, waria adalah bentuk ke-Maha Kuasaan Allah. “Saya khawatir yang mereka hujat itu kan adalah ciptaan dan kreativitas Allah. Kalau memang Allah tidak mampu menciptakan kaum seperti kami, kenapa kami ada? Kalau keberadaan kami diingkari, tentu itu salah satu hal yang mustahil bagi-Nya untuk tidak menciptakan manusia seperti kami,” paparnya.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengancam akan memberi peringatan bagi reality show yang menayangkan sosok “kebanci-bancian” jika tidak memperbaiki tayangannya.
Hal tersebut disampaikan Ketua KPI Sasa Djuarsa Sendjaja, saat dialog publik Tampilan Dengan Kebanci-Bancian di Televisi Kita, di gedung Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Jakarta, Sabtu (30/8).

“Ini teguran keras untuk semua stasiun televisi agar tidak lagi menayangkan yang kebanci-bancian,” katanya.

Fenomena waria yang mulai berani menampakkan diri ini dianggap Direktur Pusat Dakwah Hidayatul Islam Jakarta Timur, Iman Santoso, sebagai bentuk kemungkaran yang harus dicegah. Menurutnya, perilaku waria saja sudah diharamkan dalam Islam apalagi dikonteskan. “Ini sudah jauh dari nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Bahkan Iman Santoso juga memastikan bahwa terdapat kekuatan yang bermain di balik munculnya fenomena waria ini. Ia menjelaskan, dalam Islam hanya ada dua golongan yaitu orang yang berpihak dalam kebenaran dan kebatilan. “Kalau kita merunut sejarah, dapat kita ketahui siapakah pembela kebatilan? Siapa lagi kalau bukan Yahudi, Zionis, Orientalis dan Nasrani. Namun yang lebih berbahaya adalah musuh dalam selimut yaitu orang Islam yang mau menjadi kaki tangan dan agen-agen mereka,” ujar Iman.

Iman juga menjelaskan, mengembalikan waria agar kembali kepada kodratnya bukan hanya tugas ulama, Depag dan para dai. “Tapi juga tugas setiap mukmin terutama anggota keluarganya untuk mengajak mereka kembali ke jalan Allah. Media Islam juga turut berperan untuk menghadang sepak terjang dan pemikiran mereka. Tugas kita sebagai umat Islam adalah berdakwah kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar,” ajaknya.

Dalam hadits riwayat Ahmad yang dishahihkan Syekh Al Albani dan direkam oleh Abu Dawud, pada suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila kemaksiatan telah merajalela di kalangan umatku maka Allah meratakan azab kepada mereka semua dari sisi-Nya…’.” “Jadi, kontes dan legalitas waria bisa mengundang bencana bagi negeri ini,” tegas Iman.
(Diyah Kusumawardhani/EMY)
Dikutip dari http://sabili.co.id

Entry Filed under: 1. Tags: , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

June 2009
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Vote

Recent Posts

Blogroll

Spam Blocked

Jumlah Pengunjung

Archives

My Login

Recent Comments

irfan on Buku Tamu
Anindita on Buku Tamu
Fath on Kriteria Jilbab Wanita Mu…
wanitasholehah on Buku Tamu
wanitasholehah on Buku Tamu
TRIA on Buku Tamu
capungcapungkecil on Buku Tamu
wanitasholehah on Buku Tamu
Hamba Allah on Buku Tamu
Qori on Buku Tamu

Blog Stats

Cari Kata di Blog

An-Nisa' anak Banci Busana Muslimah Dalil Dhoif Dosa gigi Hadits Haram Homo seksual ibu Ikhlas Istri Jilbab Keluarga Melaknat Mengutuk Menyambung Muslimah Mut'ah Neraka Nikah Parfum Perempuan Poligami Puasa Quthbiyah Rambut Sholat Suami Syurga tato wajah Wanita Waria

Get your own Box.net widget and share anywhere!